Thursday, September 12, 2013

Supercar Ferrari dan Porsche Versi Pipa Paralon



Gambar di atas memperlihatkkan itulah jadinya jika supercar milik Ferrari dan Porsche dibuat dengan rangka pipa paralon PVC. Hannes Langeder (Han-Lan), Seniman asal Austria inilah yang menggagas ide tersebut sehingga tercipta mobil titisan dari supercar Ferrari dan Porsche yang diberi nama Fahrradi Farfalla FFX dan Ferdinand GT3 RS. Dia membuat detail setiap lekukan mobil dengan rangka pipa paralon PVC dan bodi aluminium foil, sehingga pintu, kap depan, kap bagasi bisa dibuka layaknya mobil aslinya serta disematkan juga lampu-lampu yang asli juga.

Yang paling HEBAT dari Supercar ini adalah mesin [engine] yang mengisi supercar tersebut yang digadang-gadang paling Irit dan ramah lingkungan yang pernah ada di dunia

Penasaran gan dengan konstruksi rangkanya? Atau pengen melihat aksi Supercar besutan Han-Lan ini di jalan raya? 

Fahrradi Farfalla FFX

















Ferdinand GT3 RS















Mesin







Tidak berhenti disitu aja, Han-Lan masih memiliki satu project yang belum selesai [saat TS melihat web sumbernya] yaitu pembuatan Supercar Veryon U.C. yang merupakan titisan dari Supercar Buggati Veryon 
Tentunya ini bukanlah keluaran resmi dari pabrikan Supercar tersebut. Ini merupakan karya tingkat dewa dari seniman Hannes Langeder.

Sunday, September 8, 2013

Kisah Rumah Kaca 26.000 Hektar di Spanyol



Di tahun 1960 hingga 1970an sebuah pantai di barat daya Almeria, Spanyol begitu gersang. Namun sejak 1980an segalanya berubah. Daerah ini sekarang jadi penghasil sayuran yang memasok setengah dari permintaan pasar di Eropa. Berbagai jenis tomat , paprika , mentimun dan zucchinis diproduksi di sini.

Area seluas 26.000 hektar di pantai ini jadi daerah pertanian berkat rumah kaca. Jangan bayangkan rumah tempat bercocok tanam terbuat dari kaca, melainkan lahan sederhana beratap dan dinding plastik semata. Akibatnya suhu di dalam bisa mencapai 45 derajat Celcius.


Suhu yang begitu tinggi menyebabkan penduduk lokal enggan bekerja sebagai buruh tani. Alhasil, pekerja imigran gelap dari Afrika dan Eropa Timur jadi pilihan. Sayang, kondisi di sini sangat memprihatinkan. Jarang terdapat toilet di pertanian ini, buruh tani hidup dengan ekonomi sulit hanya digaji 33 hingga 36 euro per hari. Pelacuran pun meningkat.

Di sisi keuntungan dagang dan industri, rumah kaca Almeria memang menguntungkan. Selain jadi pemasok sayuran di Eropa, kemunculan rumah kaca berbahan plastik menguntungkan pabrik plastik. Kota-kota di sekitar Almeria yang menjadi produsen plastik meraup untung tanpa memperhatikan lingkungan. Limbah plastik menutupi sungai-sungai, secara tak langsung mencemari laut.




Kematian ikan paus sperma yang terdampar di pantai selatan Spanyol beberapa bulan lalu ditengarai terkait dengan rumah kaca Almeria. Pemerhati lingkungan menemukan indikator kira-kira 17 kg limbah plastik dibuang ke laut sekitar.

Uniknya, kehadiran ribuan hektar 'rumah plastik' menurunkan suhu setempat rata-rata 0,3 derajat Celsius setiap 10 tahun sejak tahun 1983. Sementara wilayah Spanyol lainnya justru meningkat.

Thursday, September 5, 2013

Kreasi Unik Paper Clip

Pekerjaan dan rutinitas sehari-hari sering kali seringkali membuat kita merasa jenuh. Banyak hal yang sering kita lakukan untuk menghilangkan rasa jenuh salah satunya adalah dengan memanfaatkan internet, baik itu bercengkrama dengan teman-teman melalui media sosial seperti Facebook, Twitter, Google Plus atau menulis blog. Selain itu, terdapat cara yang lebih konvensional untuk melepaskan kejenuhan, terutama di tempat kerja dengan bermain paper clip.

Pembatas kertas atau paper clip ternyata dapat kita gunakan untuk membuat kreasi bermacam-macam, mulai dari yang sederhana hingga yang membutuhkan teknik yang rumit. Dalam artikel ini akan menampilkan foto-foto kreasi dari paper clip, yang tentunya dibuat untuk menghilangkan rasa jenuh di tempat kerja. Berikut adalah contoh-contoh kreasi dari paper clip yang juga dapat kamu lakukan































Sumber

Sunday, May 5, 2013

Sambil Mengayuh Sepeda, Hasilkan Air Bersih



Sehat bersepeda sekaligus memperoleh air bersih. Tampaknya itulah tujuan sepeda 'aquaduct' ini dibuat. Slogannya pun begitu jelas, “Kayuh sepedanya, dan saat tiba di rumah Anda dapat meminum air jernih."

Tim desain sepeda ini merancang berdasar  kenyataan bahwa  sebuah keluarga  kecil (empat orang) membutuhkan sekitar 20 galon air sehari untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti minum, memasak, mencuci dan membersihkan.

Lalu bagaimana cara kerjanya? Seseorang akan naik sepeda dengan tangki kosong menuju sumber air dan mengisinya hingga penuh - maksimal 20 galon. Lalu orang tersebut mengayuhnya  kembali ke rumah. 

Saat mengayuh, terjadi proses peristaltik pompa air di dalam tangki penyimpanan, melalui filter ke tangki ke-2  dan menghasilkan air bersih. 

Di muka bumi ini, lebih dari 1,1 milyar orang tidak memiliki akses terhadap air bersih dan lebih dari 5.000 anak meninggal setiap hari karena penyakit terkait air. Artinya, jika mereka menemukan cara untuk memproduksi massal sepeda ini dengan biaya yang efektif, sedikit banyak membantu masalah kemiskinan, penyakit, serta kelaparan ekstrim.

Monday, April 8, 2013

Gawat, Populasi Orangutan Turun 80%

Populasi orangutan di Indonesia dalam kurun waktu 10 tahun terakhir mengalami penurunan cukup drastis, yakni mencapai 80 persen atau saat ini hanya tersisa sekitar 6.000 ekor.

Direktur ProFauna Indonesia Rosek Nursahid, Senin (8/4), mengemukakan meski orangutan tersebut termasuk hewan langka yang dilindungi Undang-undang, perdagangan hewan tersebut masih tetap marak.
 
amazingindonesia.info


"Maraknya perdagangan orangutan, bahkan berbagai jenis hewan yang dilindungi lainnya itu akibat dari rendahnya kesadaran masyarakat dan lemahnya penegakan hukum di Tanah Air. Jika hukum (UU) benar-benar ditegakkan, pasti masyarakat tidak akan berani melanggarnya," tandas Rosek.

Satwa langka tersebut dilindungi UU yang dituangkan dalam UU Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Pelaku perdagangan orangutan bisa dikenakan sanksi hukuman penjara selama lima tahun dan denda Rp100 juta.

Rosek mengatakan rusaknya habitat dan perdagangan orangutan menjadi faktor utama menurunnya populasi orangutan di alam, di samping semakin maraknya alih fungsi hutan serta perburuan oleh masyarakat.

Oleh karena itu, pihaknya juga berharap bisa mendorong pemerintah untuk lebih serius memperhatikan pelestarian orangutan, termasuk habitat orangutan yang semakin tergusur dan terancam punah dari muka bumi.

Sebab, habitat orangutan yang merupakan satu-satunya jenis kera besar yang hidup di Asia itu hanya tinggal di Pulau Sumatera dan Kalimantan. Sedangkan tiga kerabatnya, yakni simpanse, gorila dan bonobo hidup di Afrika.

"Kalau puluhan tahun lalu kita masih bisa menemukan orangutan di kawasan Asia lainnya, sekarang hanya bisa ditemukan di Sumatera dan Kalimantan. Jumlahnya pun hanya tinggal sedikit," kata Rosek.



 

Sumber:
shnews

Friday, February 15, 2013

Gajah pun Tahu Kalau Manusia Pemangsa No. 1

Mahluk apa yang paling ditakuti hewan? Jawabannya mudah: manusia. Sebesar apa pun binatang tersebut, tetap saja manusia jadi ancaman paling menakutkan. Gajah pun merasakan hal ini.

Baru-baru ini, para peneliti meneliti keadaan emosional gajah yang berada di taman nasional dan yang berada di hutan liar Afrika.  Hasilnya, diketahui gajah yang tinggal di Serengeti National Park di Tanzania memiliki tingkat stres yang lebih rendah, daripada gajah yang berada di alam lepas atau luar hutan lindung.
 
 darkestafrica.de

Metode penelitian
Penelitian ini dilakukan dengan mengumpulkan sejumlah sampel kotoran gajah yang berada di area Serengeti National Park, lalu dibandingkan sampel kotoran yang didapat dari hutan liar.

Ternyata, kotoran gajah yang berasal dari hutan liar memiliki tingkat Gluccorticoid yang sangat tinggi. Gluccorticoid adalah hormon yang diproduksi gajah saat sedang stres. Ini disebabkan gajah merasa stres karena sangat beresiko diburu dan diganggu oleh manusia.

Sementara gajah yang berada di Serengeti National Park memiliki tingkat hormon Gluccorticoid yang rendah.

Para peneliti juga mengawasi pagar-pagar pembatas di Serengeti National Park yang terbuka, sehingga memungkinkan beberapa hewan keluar-masuk di taman nasional itu.

Setelah diamati, banyak gajah jantan yang memilih untuk masuk ke dalam taman nasional, yang mengindikasikan bahwa gajah lebih kerasan tinggal di tempat yang aman.

Dr Eivin Roskaft dari Norwegian University of Science and Technology menjelaskan, mengapa gajah lebih memilih untuk tinggal di dalam taman nasional.

"Dengan masuknya gajah ke dalam taman nasional, itu menunjukkan bahwa gajah menghindari interaksi dengan manusia," kata Roskaft.

Menurut dia, tindakan gajah yang menjauh dari manusia adalah pilihan tepat. Hasil dari penelitian ini harus menjadi perhatian dari pemerintah setempat.

"Gajah memilih daerah di dalam taman nasional sebagai tempat yang aman. Ini menunjukkan bahwa kawasan taman nasional sangat penting untuk melindungi dan meningkatkan kesejahteraan gajah. Pemerintah setempat harus memberikan ruang yang aman bagi gajah agar terhindar dari perburuan," tegas Roskaft.

"Ancaman terbesar gajah Afrika dan hewan lainnya adalah manusia. Hewan-hewan yang berada di hutan liar pasti akan dibunuh oleh manusia, untuk diambil gadingnya dan dikonsumsi dagingnya," ucap Roskaft. Hasil dari penelitian ini telah diterbitkan di African Journal of Ecology.




 


Sumber:
viva




Thursday, January 31, 2013

6 Dampak Perubahan Iklim Semakin Terasa

Menurut data Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), selama abad 20, Indonesia mengalami peningkatan suhu rata-rata udara di permukaan tanah 0,5 derajat celcius. Jika dibandingkan periode tahun 1961 hingga 1990, rata-rata suhu di Indonesia diproyeksikan meningkat 0,8 sampai 1,0 derajat Celcius antara tahun 2020 hingga 2050.

Kondisi ini merupakan dampak dari perubahan iklim yang terjadi di Bumi. Selain suhu yang meningkat, apalagi dampak perubahan iklim pada hidup kita?

 www.wallpaperpimper.com
 
1. Harga pangan meningkat
Untuk beberapa dekade mendatang, para pakar memprediksi hasil tanaman pangan mulai dari jagung hingga gandum, beras hingga kapas, akan menurun hingga 30 persen. Hasil yang menurun ini berujung pada peningkatan harga pangan. Sebab, akan ada proses, penyimpanan, dan transportasi pangan yang membutuhkan air dan energi lebih.

2. Siklus yang tidak sehat
Meningkatnya suhu ditambah dengan populasi global akan mencuatkan permintaan energi. Ini akhirnya berujung pada produksi emisi yang menyebabkan perubahan iklim dan, ironisnya, memicu lebih banyak lagi emisi. Sedangkan curah hujan, diproyeksikan akan menurun sebanyak 40 persen di beberapa lokasi. 

3. Rusaknya infrastruktur
Perubahan iklim memicu lebih banyak cuaca ekstrem yang menghasilkan bencana. Seperti yang terjadi di DKI Jakarta pada Januari hingga Februari 2013.

Hujan dalam intensitas tinggi menyebabkan banjir besar di pertengahan Januari. Ibu Kota Indonesia ini lumpuh ketika nyaris semua titik jalannya terendam banjir, termasuk pusat pemerintahan di Jakarta Pusat. Jalan dan bus transportasi umum yang merupakan infrastruktur penting bagi warga Jakarta tidak lagi berfungsi.

Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana menyebut, 15.423 jiwa harus mengungsi. Daerah yang terendam meliputi 720 RT, 309 RW, 73 Kelurahan, dan 31 Kecamatan.

4. Berkurangnya sumber air
Membludaknya jumlah penduduk menyebabkan tingginya permintaan air. Ini menimbulkan penyedotan besar-besaran terhadap sumber air yang ada. Khusus untuk Jakarta, naiknya muka air laut dapat membuat batas antara air tanah dan air laut semakin jauh ke daratan. Sehingga mencemari lebih banyak sumber air minum.

5. Meningkatnya penyakit pernapasan
Perubahan iklim juga menyebabkan polusi udara yang akhirnya menurunkan fungsi dari paru-paru. Di kota besar seperti New York City, Amerika Serikat, kasus asma akan meningkat sebanyak sepuluh persen.

6. Bencana hidrologi
Bencana alam, hasil dari perubahan iklim, meningkatkan badai dan cuaca ekstrem. Hanya beberapa kota di dunia yang mempunyai sistem penanggulangan yang cukup baik untuk bencana-bencana tersebut.






 
Sumber:
kompas.

Sunday, January 27, 2013

Tissue, si Pembabat Pohon Dunia

Bisa dikatakan penggunaan tissue dalam kehidupan sehari-hari memang terhitung praktis. Tapi pernahkah terlintas di pikiran kita bagaimana asal muasal tissue sampai bisa digunakan oleh kita sehari-hari?

Tissue mulai dibuat sekitar tahun 1880-an  dari bahan baku kulit kayu yang dijadikan pulp (bubur kertas). Sampai sekarang pun bahan baku dalam pembuatan  tissue masih menggunakan kayu. Kayu yang didapat pastinya dari hasil penebangan pohon- pohon di hutan. Biasanya tissue di Indonesia menggunakan bahan baku dari pohon
 

 manafoods.blogspot.com

Sadarkah kita bahwa penggunaan tissue yang berlebihan ikut mendukung kerusakan hutan? Misalnya, dalam 1 pack terdapat 20 lembar tissue. Dan, ternyata dari 1 pohon berumur 6 tahun hanya bisa menghasilkan 2 pack tissue saja, atau 40 lembar.

Sementara, satu pohon itu bisa menghasilkan oksigen untuk menghidupi 3 orang. Bayangkan berapa jumlah orang disekitar Anda yang menggunakan tissue setiap harinya. Pasti sangat banyak. Sampai saat ini pun Indonesia sudah kehilangan sekitar 72% hutan aslinya, dan semakin hari kerusakan hutan masih tetap berlanjut.

Penggunaan tissue dapat kita minimalisir dengan beralih menggunakan sapu tangan atau handuk. Memang penggunaannya tidak sepraktis memakai tissue yang sekali pakai bisa langsung di buang, sapu tangan harus dicuci agar dapat digunakan kembali. Tapi lihat saja manfaat penggunaan sapu tangan selain mengurangi kerusakan hutan, kita juga membantu mengurangi penumpukan sampah. Jika dilihat dari segi produksinya, menghemat penggunaan tissue dapat mengurangi pemborosan energi dan air saat proses produksi.

Belum lagi dampak negatif lainnya dari segi kesehatan. Contoh, kita kerap menggunakan tissue untuk mengambil atau membungkus makanan, misalnya gorengan, untuk menghindari tangan kotor atau menyerap minyak yang berlebihan pada makanan tersebut. Padahal, zat kimia yang terkandung dalam kertas tissue dapat bermigrasi ke makanan. Seperti pernah dikemukakan Sapto Nugroho Hadi, Departemen Biokimia IPB.

Zat yang disebut pemutih - klor - memang ditambahkan dalam pembuatan kertas tissue agar terlihat lebih putih dan bersih. Zat ini bersifat karsinogenetik (pemicu kanker).

Hal yang sama juga terjadi pada kertas yang lain, entah kertas koran atau majalah, yang sering dipakai untuk membungkus makanan. Kertas-kertas ini mengandung timbal (Pb) yang bisa berpindah kemakanan karena panas makanan.Timbal yang masuk ketubuh akan meracuni tubuh dan menyebabkan beragam gangguan, dari kondisi pucat sampai lumpuh.






Sumber: